
Sebuah Cerita Hidup Yang Membingungkan
Sebuah cerita hidup yang membingungkan. Cerita hidup ini seperti cerita pada pewayangan jawa.
Kadang kala aku menangis, ketika semuanya kembali terulang. Sesuatu kejadian yang pernah terjadi dan begitu menyakitiku terulang lagi. Memang aku anaknya keras kepala, tapi setidaknya aku masih bias mengalah. Kadang ku ingin sendiri, memikirkan apa yang membuatku bingung. Bukannya aku ndak mau ato semaunya aja, tapi aku memang butuh waktu untuk sendiri. Terkadang kita di butakan oleh ego kita sendiri, hingga kita juga ndak merasakan bahwa kita telah melakukannya. Sering terkadang apa yang kita lakukan tidak seperti apa yang pernah kita nasihatkan kepada orang lain. Terkadang kita harus melihat diri kita sendiri, apakah sudah pantas kita menasihati orang lain? Kadang kala jawaban yang kita cari – cari berada dalam lubuk hati kita yang terdalam, tapi kadang kala juga jawaban itu berada pada lingkungan sekitar.
Ingin sekali aku pergi ke sebuah pantai yang begitu indah dengan air lautnya yang berwarna biru cerah, suara ombak yang begitu merdu, suasana yang begitu sunyi dan tenang. Ingin sekali melihat berbagai warna yang belum pernah aku lihat selama ini.
Aku lebih senang, ketika melihat sahabat – sahabatku bahagia. Walaupun sebenarnya aku tidak dapat menikmati kebahagiaan yang mereka nikmati. Hanya senyum palsu saja yang bisa kuberikan. Aku sudah tidak bisa lagi mengekspresikan wajah yang gembira. Entah mengapa selalu saja sedih, padahal para sahabat – sahabat telah menghibur. Apakah ini arti sebuah kegilaan? Apakah ini ekspresi dari sebuah kekecewaan? Apakah ini ekspresi dari sebuah kebingungan? Apakah ini ekspresi dari sebuah kekesalan? Apakah ini yang namanya ekspresi tanpa arti?
Semuanya itu masih belum terjawab sampai detik ini. Banyak sekali perilaku dan sifat yang masih kusembunyikan karena aku tidak bisa memunculkannya ato aku takut untuk memunculkannya? Banyak sekali pertanyaan di otakku ini.
Setiap kali kumelihat lampu – lampu di jalan ketika malam hari, aku terbayang mengingat sebuah nama ”KEMATIAN”. Sering kali aku berpikir ”lebih baik mati daripada menerima begitu banyaknya goncangan jiwa di dunia ini” tapi setelah aku berpikir kembali, why? Mengapa aku berpikir seperti itu? Itu merupakan sebuah ungkapan dari banyak kekecewaan yang terjadi selama hidupku, dari aku kecil hingga dewasa ini. Aku tak tau lagi harus bagaimana, tapi aku kan terus mencari jawaban itu. Karena aku ingin tau bagaimanakah akhir cerita ini........
Comments (6)
toleee... nek kangen karo aku, smsan wae khan iso..
huwakakak... gak usah bunuh diri segala to...
huwakakaka.. part II
@ndop: cuakakakakaka.... ati2 nang bali akeh bule..... ati2 kena flu babi ^_^
seng nulis wae bingung ndanio seng moco...
@Gajah Pesing: wakakakaakakaka RoFL...
^_^
namanya unik abis mas, glonggongan, hehehehe. :lol:
lucu, tapi keren.
btw, salam kenal ya, salam blogger!
makasih.,.,.,
salam kenal juga yach
^_^